Jumat, 12 November 2010

ARTIKEL MUSIK

ARTIKEL MUSIK III

Musik Seriosa, Riwayatmu Doeloe'
Sumber : http://www.gatra.com/2001-07-14/artikel.php?id=8045Opini : Musik Seriosa adalah musik dmana yang menyanyikan memakai vibra yang membuat bulu kuduk bisa merinding saat mendengarnya
SELAMA sekitar 25 tahun pertama sesudah Proklamasi Kemerdekaan, Radio Republik Indonesia (RRI) menjadi semacam katalisator atau pusat perkembangan musik Indonesia. Periode 1950-an dan 1970-an adalah tahun-tahun sangat menentukan bagi perkembangan awal musik Indonesia, terutama lewat forum Bintang Radio. Kompetisi tarik suara ini dibagi dalam tiga kategori jenis musik: hiburan, keroncong, dan seriosa.

Walaupun tidak berwacana politik, kegiatan Bintang Radio sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari semangat kebangsaan yang sedang tumbuh. Pada 1950, tepatnya pada pidato kenegaraan 17 Agustus, Bung Karno dengan tegas memproklamasikan Republik Indonesia yang sebelumnya disulap Belanda menjadi Republik Indonesia Serikat, kembali menjadi negara kesatuan.

Karena hampir semua orang asing yang menjadi tenaga ahli meninggalkan Indonesia, muncullah dilema besar, yaitu siapa yang harus menggantikan peran mereka. Dari situ lantas lahir semangat baru dalam bentuk kredo: kemerdekaan harus diisi oleh bangsa sendiri. Di kota-kota besar, minimal di ibu kota provinsi, ada sekian orkes atau simfoni orkestra bentukan Belanda di masa lalu.

Beberapa di antaranya berumur cukup tua dan terkenal. Orkes-orkes itu, karena imbas perubahan zaman, ditinggalkan begitu saja oleh sebagian besar pemainnya yang harus pulang ke negara asal mereka. Stasiun radio menjadi vakum. Tapi RRI, yang sejak lahirnya mempunyai moto ''sekali di udara tetap di udara'', harus tetap siar suara.

Maka direkrutlah tenaga-tenaga baru untuk mengisi kemerdekaan di bidang penyiaran radio. Dalam hal musik, rekrutmen itu tidak hanya menyangkut orang, melainkan juga agenda programa dan visi ke depan penyiaran politik budaya (yang di zaman Orde Baru kemudian dipelintir menjadi budaya politik). RRI lantas menjadi semacam pusat pengembangan musik yang sangat ekstensif di Indonesia.

Yang direkrut bukan hanya para pemain musik (instrumentalis dan vokalis), melainkan juga pemimpin orkes (dirigen), pencipta musik (komponis dan arranger), pengiring piano (corepetitor), penyusun acara, dan pelaksana agenda musik. Yang paling menentukan adalah lahirnya model pertama musik Indonesia dari terciptanya ratusan repertoar musik baru yang dimainkan melalui siaran radio.

RRI pun lalu identik dengan musik. Salah satu agenda RRI yang paling pantas dicatat dalam sejarah musik Indonesa adalah diselenggarakannya acara tahunan Bintang Radio. Kompetisi ini diselenggarakan melalui tahapan seleksi yang sangat ketat, baik pada tingkat daerah, provinsi, maupun nasional, dalam suatu trilogi kompetisi.

Musik hiburan, yang adalah genus musik pergaulan (entertainment music) Indonesia pertama banyak berasosiasi dengan lagu-lagu rakyat Indonesia dan lagu-lagu Barat, terutama musik populer Amerika dan Eropa. Musik keroncong adalah suatu sinkretik budaya antara musik Indonesia yang bersistem teknik ''Barat'' dan karakteristik kothekan dan tembang yang ada pada pola permainan musik gamelan.

Sebagai festival musik yang sangat kompetitif, untuk mencapai tahapan final di tingkat nasional setiap peserta harus melewati sembilan kali seleksi. Suara dan teknik menyanyi para Bintang Radio di ketiga kategori itu telah menjadi model gaya bernyanyi orang Indonesia hingga sekarang. Untuk menyebut sedikit penyanyi Bintang Radio yang telah menjadi ikon dalam bidangnya adalah Sam Saimun, Bing Slamet, Titiek Puspa, Andy Mulya, Bob Tutupoli, Harvey Malaiholo, Sayekti, Sundari Soekotjo, Kamsidi, Waldjinah, Pranadjaja, Ping Astono, Ade Ticoalu, Norma Sanger, dan Pranawengrum Katamsi.

Di antara mereka ada yang masih bertahan hingga hari ini. Hal itu menunjukkan bagaimana bagusnya tingkat kualifikasi festival Bintang Radio di masa itu. Lalu, mengapa kategori ketiga --konon kategori yang paling dianggap bergengsi-- disebut ''musik seriosa''? Istilah musik seriosa sesungguhnya agak berlebihan.

Yang dimaksud dengan musik seriosa dalam Bintang Radio itu sesungguhnya tak lain adalah bagian dari suatu seni olah suara (menyanyi) dengan teknik tertentu, diiringi piano atau aransemen orkes, dalam membawakan lagu-lagu pendek dalam bentuk lied form yang bermatra tiga frase sederhana: awal, sisipan, dan ulangan.

Dilihat dari bentuk penulisan dan pembawaannya pun sesungguhnya masih terlalu sederhana untuk dibilang seni serios(a). Istilah musik seriosa yang kedengaran agak keitalia-italiaan itu sebenarnya berasal dari pemilahan khazanah musik di Amerika dan Eropa di awal perkembangan industri musik sesudah Perang Dunia II.

Orang Amerika, karena peraturan pajak, Undang-Undang Perburuhan, dan sebagainya, memilah musik dengan sebutan serious music dan entertainment music. Orang Jerman bilang (U)ntherhaltung musik dan (E)rnst musik. Artinya, musik hiburan dan musik serius (sungguh-sungguh dan penting).

Tapi, di sana istilah ini dikenakan bukan hanya untuk membedakan jenis vokal, melainkan dipakai untuk membedakan semua jenis komposisi musik. Istilah yang cepat tidak up to date ini diimpor ke Indonesia oleh Amir Pasaribu untuk memberi ciri salah satu kategori Bintang Radio yang dilombakan pertama kali pada 1952.

Maka begitulah, musik seriosa pun lantas sering dianggap sedikit lebih seru dan prestisius dari yang lain. Sejarahnya agak aneh tapi menarik. Pada awal 1950-an itu, beberapa kaum pejuang yang terpelajar dan mendapat pendidikan apresiasi musik di sekolah-sekolah Belanda sering terlibat dalam pergaulan musik di RRI.

Mereka antara lain Amir Pasaribu, Cornell Simandjuntak, Binsar Sitompoel, Syaiful Bachri, Ismail Marzuki, R.A.J. Soedjasmin, Koesbini, kemudian juga generasi berikutnya yang lebih muda seperti Iskandar, Isbandi, Syafi'i Embut, Soedharnoto, Soebronto K. Atmodjo, Harry Mulyono, dan F.X. Soetopo. Merekalah para komponis dan penulis lagu kontributor utama kompetisi Bintang Radio.

Lagu-lagu mereka menjadi standar pertama seleksi Bintang Radio, baik tingkat daerah maupun tingkat nasional. Anehnya, lagu-lagu mereka adalah suatu adaptasi inspiratif model bentuk lieder, perkembangan musik zaman Romantik yang mekar di Eropa, 150 sampai 200 tahun sebelumnya. ''Romantism'' keindonesiaan mereka tampak jelas pada lagu-lagu seperti Kemuning (Cornell Simandjuntak), Citra (Cornell Simandjuntak-Usmar Ismail), Wanita (Ismail Marzuki), Ave Maria (R.A.J. Soedjasmin-Chairil Anwar), dan Puisi Rumah Bambu (F.X. Soetopo), Sejuta Bintang (Syaiful Bachri).

Fragmentasi karya-karya kumpulan buku-buku lieder para komponis Romantik Schubert, Mendelssohn, Schumann, Brahms, atau aria-aria pendek komponis Opera Romantik Puccini, Gound, Mascagani, Bizet, Strauss, menjadi oasis, sumber penciptaan lagu-lagu kecil musik seriosa para komponis awal Indonesia itu.

Sangat mengherankan bahwa mereka sepertinya sama sekali tak terinspirasi oleh para komponis yang lebih fundamental, seperti Bach, Mozart, Beethoven, atau komponis-komponis yang lebih dekat dengan zaman mereka, seperti Debussy, Bartok, dan Stravinsky. Tapi, hal ini bisa dimengerti bila diingat bahwa sesungguhnya lagu-lagu pendek mendayu-merdu-merayu dari para komponis Romantik yang mudah masuk selera itu rasanya memang lebih dekat dengan apresiasi ditentantis para komponis Indonesia dari dulu hingga sekarang.

Bagaimanapun, para komponis pendahulu Indonesia masa Bintang Radio itu telah menguak jalan bagi perkembangan musik Indonesia. Kepioniran mereka mirip dengan kepeloporan juru gambar dalam sejarah seni lukis Indonesia, roman picisan dalam sastra Indonesia, atau tonil dan sandiwara dalam dunia teater dan film Indonesia.

Bedanya, perkembangan musik seriosa Indonesia itu, mungkin karena kurang berakar dan kurang konsisten sejak akhir 1970-an, berhenti pada platform kebuntuan, ketika tidak lagi muncul peristiwa-peristiwa baru. Tidak muncul karya-karya baru, dan tidak muncul seniman-seniman baru dengan segala pendukungnya seperti pada awal pertumbuhannya.

Inspirasi kebangsaan pun telah pingsan. Maka berhentilah konstruksi kekreatifan itu ketika bangunan spirit fundamental yang menopangnya juga ambruk. Apalagi, sejak 1980-an, RRI tidak lagi menjadi katalisator musik di Indonesia. Surutnya musik seriosa Indonesia mengiringi surutnya peran RRI.

DANGDUT
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Dangdut
Opini: bagiku musik adalah musik yang ga enak tapi disamping tidak enaknya terdapat aliran dimana orang dapat bergoyang untuk menikmatinya
Dangdut merupakan salah satu dari genre seni musik yang berkembang di Indonesia. Bentuk musik ini berakar dari musik Melayu pada tahun 1940-an. Dalam evolusi menuju bentuk kontemporer sekarang masuk pengaruh unsur-unsur musik India (terutama dari penggunaan tabla) dan Arab (pada cengkok dan harmonisasi). Perubahan arus politik Indonesia di akhir tahun 1960-an membuka masuknya pengaruh musik barat yang kuat dengan masuknya penggunaan gitar listrik dan juga bentuk pemasarannya. Sejak tahun 1970-an dangdut boleh dikatakan telah matang dalam bentuknya yang kontemporer. Sebagai musik populer, dangdut sangat terbuka terhadap pengaruh bentuk musik lain, mulai dari keroncong, langgam, degung, gambus, rock, pop, bahkan house music.
Penyebutan nama "dangdut" merupakan onomatope dari suara permainan tabla (dalam dunia dangdut disebut gendang saja) yang khas dan didominasi oleh bunyi dang dan ndut. Nama ini sebetulnya adalah sebutan sinis dalam sebuah artikel majalah awal 1970-an bagi bentuk musik melayu yang sangat populer di kalangan masyarakat kelas pekerja saat itu.

Dari musik Melayu ke Dangdut

Dangdut kontemporer telah berbeda dari akarnya, musik Melayu, meskipun orang masih dapat merasakan sentuhannya.
Orkes Melayu (biasa disingkat OM, sebutan yang masih sering dipakai untuk suatu grup musik dangdut) yang asli menggunakan alat musik seperti gitar akustik, akordeon, rebana, gambus, dan suling, bahkan gong. Pada tahun 1950-an dan 1960-an banyak berkembang orkes-orkes Melayu di Jakarta yang memainkan lagu-lagu Melayu Deli dari Sumatera (sekitar Medan). Pada masa ini mulai masuk eksperimen masuknya unsur India dalam musik Melayu. Perkembangan dunia sinema pada masa itu dan politik anti-Barat dari Presiden Sukarno menjadi pupuk bagi grup-grup ini. Dari masa ini dapat dicatat nama-nama seperti P. Ramlee (dari Malaya), Said Effendi (dengan lagu Seroja), Ellya (dengan gaya panggung seperti penari India, sang pencipta Boneka dari India), Husein Bawafie (salah seorang penulis lagu Ratapan Anak Tiri), Munif Bahaswan (pencipta Beban Asmara), serta M. Mashabi (pencipta skor film "Ratapan Anak Tiri" yang sangat populer di tahun 1970-an).
Gaya bermusik masa ini masih terus bertahan hingga 1970-an, walaupun pada saat itu juga terjadi perubahan besar di kancah musik Melayu yang dimotori oleh Soneta Group pimpinan Rhoma Irama. Beberapa nama dari masa 1970-an yang dapat disebut adalah Mansyur S., Ida Laila, A. Rafiq, serta Muchsin Alatas. Populernya musik Melayu dapat dilihat dari keluarnya beberapa album pop Melayu oleh kelompok musik pop Koes Plus di masa jayanya.
Dangdut modern, yang berkembang pada awal tahun 1970-an sejalan dengan politik Indonesia yang ramah terhadap budaya Barat, memasukkan alat-alat musik modern Barat seperti gitar listrik, organ elektrik, perkusi, terompet, saksofon, obo, dan lain-lain untuk meningkatkan variasi dan sebagai lahan kreativitas pemusik-pemusiknya. Mandolin juga masuk sebagai unsur penting. Pengaruh rock (terutama pada permainan gitar) sangat kental terasa pada musik dangdut. Tahun 1970-an menjadi ajang 'pertempuran' bagi musik dangdut dan musik rock dalam merebut pasar musik Indonesia, hingga pernah diadakan konser 'duel' antara Soneta Group dan God Bless. Praktis sejak masa ini musik Melayu telah berubah, termasuk dalam pola bisnis bermusiknya.
Pada paruh akhir dekade 1970-an juga berkembang variasi "dangdut humor" yang dimotori oleh OM Pancaran Sinar Petromaks (PSP). Orkes ini, yang berangkat dari gaya musik melayu deli, membantu diseminasi dangdut di kalangan mahasiswa. Subgenre ini diteruskan, misalnya, oleh OM Pengantar Minum Racun (PMR) dan, pada awal tahun 2000-an, oleh Orkes Pemuda Harapan Bangsa (PHB).

Bangunan lagu

Meskipun lagu-lagu dangdut dapat menerima berbagai unsur musik lain secara mudah, bangunan sebagian besar lagu dangdut sangat konservatif, sebagian besar tersusun dari satuan delapan birama 4/4. Jarang sekali ditemukan lagu dangdut dengan birama 3/4, kecuali pada beberapa lagu masa 1960-an seperti Burung Nuri dan Seroja. Lagu dangdut juga miskin improvisasi, baik melodi maupun harmoni. Sebagai musik pengiring tarian, dangdut sangat mengandalkan ketukan tabla dan sinkop.
Bentuk bangunan lagu dangdut secara umum adalah: A - A - B -A,
namun dalam aplikasi kebanyakan memiliki urutan menjadi seperti ini:
Intro - A - A - Interlude - B (Reffrain) - A - Interlude - B (Reffrain) - A
Intro dapat berupa vokal tanpa iringan atau berupa permainan seruling, selebihnya merupakan permainan gitar atau mandolin. Panjang intro dapat mencapai delapan birama.
Bagian awal tersusun dari delapan birama, dengan atau tanpa pengulangan. Jika terdapat pengulangan, dapat disela dengan suatu baris permainan jeda (interlude). Bagian ini biasanya berlirik pengantar tentang isi lagu, situasi yang dihadapi sang penyanyi.

Gendang atau tabla, salah satu alat musik utama dangdut
Lagu dangdut standar tidak memiliki refrain, namun memiliki bagian kedua dengan bangunan melodi yang berbeda dengan bagian pertama. Sebelum memasuki bagian kedua biasanya terdapat dua kali delapan birama jeda tanpa lirik (interlude). Bagian kedua biasanya sepanjang dari dua kali delapan birama dengan disela satu baris jeda tanpa lirik. Di akhir bagian kedua kadang-kadang terdapat koda sepanjang empat birama. Lirik bagian kedua biasanya berisi konsekuensi dari situasi yang digambarkan bagian pertama atau tindakan yang diambil si penyanyi untuk menjawab situasi itu.
Setelah bagian kedua, lagu diulang penuh dari awal hingga akhir. Lagu dangdut diakhiri pada pengulangan bagian pertama. Jarang sekali lagu dangdut diakhiri dengan fade away.

Interaksi dengan musik lain

Dangdut sangat elastis dalam menghadapi dan mempengaruhi bentuk musik yang lain. Lagu-lagu barat populer pada tahun 1960-an dan 1970-an banyak yang didangdutkan. Genre musik gambus dan kasidah perlahan-lahan hanyut dalam arus cara bermusik dangdut. Hal yang sama terjadi pada musik tarling dari Cirebon sehingga yang masih eksis pada saat ini adalah bentuk campurannya: tarlingdut.
Musik rock, pop, disko, house bersenyawa dengan baik dalam musik dangdut. Aliran campuran antara musik dangdut & rock secara tidak resmi dinamakan Rockdut. Demikian pula yang terjadi dengan musik-musik daerah seperti jaipongan, degung, tarling, keroncong, langgam Jawa (dikenal sebagai suatu bentuk musik campur sari yang dinamakan congdut, dengan tokohnya Didi Kempot), atau zapin.
Mudahnya dangdut menerima unsur 'asing' menjadikannya rentan terhadap bentuk-bentuk pembajakan, seperti yang banyak terjadi terhadap lagu-lagu dari film ala Bollywood dan lagu-lagu latin. Kopi Dangdut, misalnya, adalah "bajakan" lagu yang populer dari Venezuela.

Dangdut dalam budaya kontemporer Indonesia

Oleh Rhoma Irama, dangdut dijadikan sebagai alat berdakwah, yang jelas terlihat dari lirik-lirik lagu ciptaannya dan dinyatakan sendiri olehnya. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu polemik besar kebudayaan di Indonesia pada tahun 2003 akibat protesnya terhadap gaya panggung penyanyi dangdut dari Jawa Timur, Inul Daratista, dengan goyang ngebor-nya yang dicap dekaden serta "merusak moral".

Penyanyi dangdut Inul Daratista
Jauh sebelumnya, dangdut juga telah mengundang perdebatan dan berakhir dengan pelarangan panggung dangdut dalam perayaan Sekaten di Yogyakarta. Perdebatan muncul lagi-lagi akibat gaya panggung penyanyi (wanita)-nya yang dinilai terlalu "terbuka" dan berselera rendah, sehingga tidak sesuai dengan misi Sekaten sebagai suatu perayaan keagamaan.
Dangdut memang disepakati banyak kalangan sebagai musik yang membawa aspirasi kalangan masyarakat kelas bawah dengan segala kesederhanaan dan kelugasannya. Ciri khas ini tercermin dari lirik serta bangunan lagunya. Gaya pentas yang sensasional tidak terlepas dari nafas ini.
Panggung kampanye partai politik juga tidak ketinggalan memanfaatkan kepopuleran dangdut untuk menarik massa. Isu dangdut sebagai alat politik juga menyeruak ketika Basofi Sudirman, pada saat itu sebagai fungsionaris Golkar, menyanyi lagu dangdut.
Walaupun dangdut diasosiasikan dengan masyarakat bawah yang miskin, bukan berarti dangdut hanya digemari kelas bawah. Di setiap acara hiburan, dangdut dapat dipastikan turut serta meramaikan situasi. Panggung dangdut dapat dengan mudah dijumpai di berbagai tempat. Tempat hiburan dan diskotek yang khusus memutar lagu-lagu dangdut banyak dijumpai di kota-kota besar. Stasiun radio siaran yang menyatakan dirinya sebagai "radio dangdut" juga mudah ditemui di berbagai kota.

Tokoh-tokoh

Berikut adalah nama-nama beberapa tokoh penyanyi dan pencipta lagu dangdut populer yang dibagi dalam tiga kelompok kronologis, sesuai dengan perkembangan musik dangdut.

Pra-1970-an

1970-an

Setelah 1970-an

 KERONCONG
Sumber :  http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong
Opini : musik keroncong adalah musik zaman tempo dulu diman terdapat nada- nada yang membuat pendengar menjadi keasikan mendengarnya,dan ingin mendengarnya terus 

Keroncong merupakan nama dari instrumen musik sejenis ukulele dan juga sebagai nama dari jenis musik khas Indonesia yang menggunakan instrumen musik keroncong, flute, dan seorang penyanyi wanita.

Asal-usul

Akar keroncong berasal dari sejenis musik Portugis yang dikenal sebagai fado yang diperkenalkan oleh para pelaut dan budak kapal niaga bangsa itu sejak abad ke-16 ke Nusantara. Dari daratan India (Goa) masuklah musik ini pertama kali di Malaka dan kemudian dimainkan oleh para budak dari Maluku. Melemahnya pengaruh Portugis pada abad ke-17 di Nusantara tidak dengan serta-merta berarti hilang pula musik ini. Bentuk awal musik ini disebut moresco (sebuah tarian asal Spanyol, seperti polka agak lamban ritmenya), di mana salah satu lagu oleh Kusbini disusun kembali kini dikenal dengan nama Kr. Muritsku, yang diiringi oleh alat musik dawai. Musik keroncong yang berasal dari Tugu disebut keroncong Tugu. Dalam perkembangannya, masuk sejumlah unsur tradisional Nusantara, seperti penggunaan seruling serta beberapa komponen gamelan. Pada sekitar abad ke-19 bentuk musik campuran ini sudah populer di banyak tempat di Nusantara, bahkan hingga ke Semenanjung Malaya. Masa keemasan ini berlanjut hingga sekitar tahun 1960-an, dan kemudian meredup akibat masuknya gelombang musik populer (musik rock yang berkembang sejak 1950, dan berjayanya musik Beatle dan sejenisnya sejak tahun 1961 hingga sekarang). Meskipun demikian, musik keroncong masih tetap dimainkan dan dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia dan Malaysia hingga sekarang.

Alat-alat musik

Dalam bentuknya yang paling awal, moresco diiringi oleh musik dawai, seperti biola, ukulele, serta selo. Perkusi juga kadang-kadang dipakai. Set orkes semacam ini masih dipakai oleh keroncong Tugu, bentuk keroncong yang masih dimainkan oleh komunitas keturunan budak Portugis dari Ambon yang tinggal di Kampung Tugu, Jakarta Utara, yang kemudian berkembang ke arah selatan di Kemayoran dan Gambir oleh orang Betawi berbaur dengan musik Tanjidor (tahun 1880-1920). Tahun 1920-1960 pusat perkembangan pindah ke Solo, dan beradaptasi dengan irama yang lebih lambat sesuai sifat orang Jawa.
Pem-"pribumi"-an keroncong menjadikannya seni campuran, dengan alat-alat musik seperti
Saat ini, alat musik yang dipakai dalam orkes keroncong mencakup
  • ukulele cuk, berdawai 3 (nilon), urutan nadanya adalah G, B dan E; sebagai alat musik utama yang menyuarakan crong - crong sehingga disebut keroncong (ditemukan tahun 1879 di Hawai, dan merupakan awal tonggak mulainya musik keroncong)
  • ukulele cak, berdawai 4 (baja), urutan nadanya A, D, Fis, dan B. Jadi ketika alat musik lainnya memainkan tangga nada C, cak bermain pada tangga nada F (dikenal dengan sebutan in F);
  • gitar akustik sebagai gitar melodi, dimainkan dengan gaya kontrapuntis (anti melodi);
  • biola (menggantikan Rebab); sejak dibuat oleh Amati atau Stradivarius dari Cremona Itali sekitar tahun 1600 tidak pernah berubah modelnya hingga sekarang;
  • flute (mengantikan Suling Bambu), pada Era Tempo Doeloe memakai Suling Albert (suling kayu hitam dengan lubang dan klep, suara agak patah-patah, contoh orkes Lief Java), sedangkan pada Era Keroncong Abadi telah memakai Suling Bohm (suling metal semua dengan klep, suara lebih halus dengan ornamen nada yang indah, contoh flutis Sunarno dari Solo atau Beny Waluyo dari Jakarta);
  • selo; betot menggantikan kendang, juga tidak pernah berubah sejak dibuat oleh Amati dan Stradivarius dari Cremona Itali 1600, hanya saja dalam keroncong dimainkan secara khas dipetik/pizzicato;
  • kontrabas (menggantikan Gong), juga bas yang dipetik, tidak pernah berubah sejak Amati dan Stradivarius dari Cremona Itali 1600 membuatnya;
Penjaga irama dipegang oleh ukulele dan bas. Gitar yang kontrapuntis dan selo yang ritmis mengatur peralihan akord. Biola berfungsi sebagai penuntun melodi, sekaligus hiasan/ornamen bawah. Flut mengisi hiasan atas, yang melayang-layang mengisi ruang melodi yang kosong.
Bentuk keroncong yang dicampur dengan musik populer sekarang menggunakan organ tunggal serta synthesizer untuk mengiringi lagu keroncong (di pentas pesta organ tunggal yang serba bisa main keroncong, dangdut, rock, polka, mars).

Jenis keroncong

Musik keroncong lebih condong pada progresi akord dan jenis alat yang digunakan. Sejak pertengahan abad ke-20 telah dikenal paling tidak tiga macam keroncong, yang dapat dikenali dari pola progresi akordnya. Bagi pemusik yang sudah memahami alurnya, mengiringi lagu-lagu keroncong sebenarnya tidaklah susah, sebab cukup menyesuaikan pola yang berlaku. Pengembangan dilakukan dengan menjaga konsistensi pola tersebut. Selain itu, terdapat pula bentuk-bentuk campuran serta adaptasi.

Perkembangan keroncong masa kini

Setelah mengalami evolusi yang panjang sejak kedatangan orang Portugis di Indonesia (1522) dan pemukiman para budak di daerah Kampung Tugu tahun 1661 [1], dan ini merupakan masa evolusi awal musik keroncong yang panjang (1661-1880), hampir dua abad lamanya, namun belum memperlihatkan identitas keroncong yang sebenarnya dengan suara crong-crong-crong, sehingga boleh dikatakan musik keroncong belum lahir tahun 1661-1880.
Dan akhirnya musik keroncong mengalami masa evolusi pendek terakhir sejak tahun 1880 hingga kini, dengan tiga tahap perkembangan terakhir yang sudah berlangsung dan satu perkiraan perkembangan baru (keroncong millenium). Tonggak awal adalah pada tahun 1879 [2], di saat penemuan ukulele di Hawai [3] yang segera menjadi alat musik utama dalam keroncong (suara ukulele: crong-crong-crong), sedangkan awal keroncong millenium sudah ada tanda-tandanya, namun belum berkembang (Bondan Prakoso).
Empat tahap masa perkembangan tersebut adalah[4]
(a) Masa tempo doeloe (1880-1920),
(b) Masa keroncong abadi (1920-1960), dan
(c) Masa keroncong modern (1960-2000), serta
(d) Masa keroncong millenium (2000-kini)

Masa tempo doeloe (1880-1920)

Ukulele ditemukan pada tahun 1879 di Hawaii, sehingga diperkirakan pada tahun berikutnya Keroncong baru menjelma pada tahun 1880, di daerah Tugu kemudian menyebar ke selatan daerah Kemayoran dan Gambir (lihat ada lagu Kemayoran dan Pasar Gambir, sekitar tahun 1913). Komedie Stamboel 1891-1903 lahir di Kota Pelabuhan Surabaya tahun 1891, berupa Pentas Gaya Instanbul, yang mengadakan pertunjukan keliling di Hindia Belanda, Singapura, dan Malaya lewat jalur kereta api maupun kapal api. Pada umumnya pertunjukan meliputi Cerita 1001 Malam (Arab) dan Cerita Eropa (Opera maupun Rakyat), termasuk Hikayat India dan Persia. Sebagai selingan, antar adegan maupun pembukaan, diperdengarkan musik mars, polka, gambus, dan keroncong. Khusus musik keroncong dikenal pada waktu itu Stambul I, Stambul II, dan Stambul III.
Pada waktu itu lagu Stambul berirama cepat (sekitar meter 120 untuk satu ketuk seperempat nada), di mana Warga Kampung Tugu menyebut sebagai Keroncong Portugis, sedangkan Gesang menyebut sebagai Keroncong Cepat, dan berbaur dengan Tanjidor yang asli Betawi. Pada masa ini dikenal para musisi Indo, dan pemain biola legendaris adalah M. Sagi (perhatikan rekaman Idris Sardi main biola lagu Stambul II Jali-jali berdasarkan aransemen dari M. Sagi). Seperti diketahui bahwa panjang lagu stambul adalah 16 birama, yang terdiri atas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar